Metode-Metode Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Memfasilitasi masyarakat dalam usaha mandiri mereka untuk berdaya tentu saja memerlukan metode. Seperti asal-usul kata fasilitator berasal dari bahasa latin “fasilis” yang artinya: mempermudah, maka Fasilitator adalah orang yang bertugas mengelola proses dialog. Fasilitator ada untuk mendukung kegiatan belajar agar peserta bisa mencapai tujuan belajarnya. Fasilitator mendorong peserta untuk percaya diri dalam menyampaikan pengalaman dan pikirannya, mengajak peserta dominan untuk mendengarkan. Fasilitator memperkenalkan teknik-teknik komunikasi untuk mendorong partisipasi. Fasilitator menggunakan media yang cocok dengan kebutuhan peserta dan membantu proses belajar/komunikasi menjadi lebih efektif.

Masuk ke pembahasan tentang metode fasilitasi yang dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana (yang sudah disusun sebelumnya) ke dalam bentuk kegiatan praktis dan nyata untuk mencapai tujuan dari kegiatan fasilitasi tersebut. Metode-metode tersebut dapat dipilih dengan mendasarkannya pada beberapa aspek, seperti efektifitas biaya, isi program fasilitasi yang diinginkan, prinsip-prinsip belajar, dan kemampuan yang dimiliki oleh fasilitator dan juga peserta fasilitasi. Adapun beberapa metode fasilitasi yang biasanya digunakan, antara lain:

  1. Metode seminar, yakni suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh beberapa orang dalam suatu forum yang berusaha untuk membahas atau mengupas masalah-masalah atau hal-hal tertentu dalam rangka mencari jalan pemecahannya atau mencari pedoman pelaksanaannya (Ulihbukit, 1981).
  2. Metode kerja kelompok, yakni suatu metode yang menyajikan bahan fasilitasi dengan cara menyuruh peserta untuk membuat kelompok-kelompok guna mengerjakan suatu tugas tertentu serta untuk mencapai tujuan fasilitasi. Melalui metode ini, peserta dituntut untuk saling bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah atau menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kelompoknya (Roestiyah, 1991).
  3. Metode kerja lapangan, yakni metode fasilitasi yang dilaksanakan dengan cara mengajak peserta untuk berkunjung menuju ke suatu tempat di luar tempat fasilitasi. Metode ini dilaksanakan tidak hanya sekedar untuk observasi semata, namun juga dapat langsung berpartisipasi secara aktif ke lapangan kerja, sehingga peserta dapat menghayati sendiri serta bekerja secara langsung di dalamnya. Metode ini merupakan sebuah ajang untuk mengaitkan materi (teoritik) yang telah peserta dapatkan selama proses fasilitasi dengan praktik lapangan yang sebenarnya terjadi secara nyata (Roestiyah, 1991).
  4. Metode presentasi, yakni metode yang dilaksanakan melalui penyampaian informasi dan pengetahuan dari pihak fasilitator dengan menggunakan teknik komunikasi satu arah. Pada konteks metode ini, fasilitator yang melakukan presentasi harus memiliki keahlian atau kemampuan yang spesifik terkait dengan materi yang disampaikan kepada peserta fasilitasi. Pun metode ini juga akan lebih baik apabila didukung dengan alat-alat penunjang lainnya, seperti LCD, proyektor, pengeras suara, dan lain-lain (Santoso, 2010). Metode ini merupakan salah satu yang paling sering digunakan di dalam suatu praktik fasilitasi, terutama ketika penyampaian materi pada bagian awalnya.
  5. Metode eksperimental, yakni suatu metode yang dilakukan dengan cara peserta diajak untuk melakukan uji coba atau mengamati terhadap sesuatu yang menjadi bahan materinya, kemudian hasil pengamatan tersebut dipresentasikan kepada forum dan dievaluasi oleh fasilitator.
  6. Metode bermain peran (role playing), yakni suatu metode yang dilakukan dengan cara meminta peserta untuk melakukan suatu peran tertentu. Metode ini sangat memungkinkan keterlibatan seluruh peserta fasilitasi dan juga mendayagunakan efek kinestetiknya (Santoso, 2010). Metode ini biasanya digunakan untuk mengembangkan kemampuan inter-personal peserta atau kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam pelaksanaannya, metode ini harus merancang terlebih dahulu suatu kondisi yang harus dihadapi sebagai bagian dari skema role playing.
  7. Metode simulasi, yakni metode fasilitasi yang dilakukan melalui penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, dan keterampilan tertentu. Metode ini mengharuskan peserta untuk memerankan peran tertentu di luar dirinya sendiri atau melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Melalui proses simulasi, peserta akan memperoleh pengalaman belajar yang dapat mendekati sesuatu yang nyata (Santoso, 2010).
  8. Metode pemecahan masalah (problem solving), ialah metode yang merangsang kemampuan berpikir peserta dalam mengidentifikasi dan memecahkan suatu masalah. Metode ini bukan hanya sekedar metode fasilitasi saja, melainkan juga merupakan suatu metode berpikir.
  9. Metode karyawisata (study tour), yakni suatu metode yang dilaksanakan dengan mengajak peserta berkunjung ke suatu tempat tertentu untuk mempelajari dan menyelidiki objek belajar secara langsung kepada sumbernya. 
  10. Metode diskusi, yakni suatu metode yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah secara langsung, karena pada saat yang bersamaan terjadi proses tanya jawab antara fasilitator dengan peserta atau antara satu peserta dengan peserta lainnya. Metode ini ditujukan untuk melatih kemampuan menganalisis suatu persoalan dan mengasah kemampuan berargumentasi peserta yang berangkat dari suatu data dan fakta yang relevan. Terlebih lagi, diskusi merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan dalam praktik fasilitasi, terutama ketika fasilitator telah memberikan materi awalannya melalui metode presentasi.

Setelah mengetahui berbagai macam metode fasilitasi tersebut, tugas Anda yang ingin menjadi fasilitator perubahan dan pemberdayaan bagi masyarakat adalah mengkaji metode mana yang paling cocok untuk masyarakat yang ingin Anda fasilitasi. Di satu sisi jangan sampai terpaku pada satu metode saja, sedangkan di sisi lain tidak perlu memaksakan memakai semua metode.

Referensi

Roestiyah, N., K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Santoso, B. 2010. Skema dan Mekanisme Pelatihan: Panduan Penyelenggaran Pelatihan. Jakarta: Yayasan Terumbu Kerang Indonesia.

Ulihbukit, K. 1981. Metodologi Pengajaran. Salatiga: CV. Saudara.

Photo by Felicia Buitenwerf on Unsplash

More to explorer

Mengenal Koperasi Multi Pihak

Kemunculan sharing economy dan digitalisasi memfasilitasi pembentukan ekosistem inovasi atau Areas of Innovation (AOI) dan pembangunan startup melalui kolaborasi berbagai entitas bisnis.

Close Menu