Dimensi Pemberdayaan Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Sebagai seorang wirausahawan sosial, pemberdayaan masyarakat menjadi hal yang wajib Anda ketahui. Pemberdayaan masyarakat memiliki banyak dimensi. Menurut Judith Lee (2001), dimensi pemberdayaan masyarakat meliputi: (1) Pengembangan aspek positif dan potensi diri yang dimiliki; (2) Membangun pemahaman atau pengetahuan serta kapasitas secara kritis dan komprehensif tentang kondisi sosial, politik, dan lingkungan di suatu wilayah, dan; (3) Pengembangan sumber daya dan strategi serta kemampuan fungsional untuk mencapai tujuan kolektif. Menurut pendapat yang lain, dimensi-dimensi di dalam pemberdayaan masyarakat juga dibagi menjadi empat macam dimensi (Overseas Development Institute, 2009), antara lain: (1) Pemberdayaan ekonomi; (2) Pemberdayaan sumber daya manusia dan social; (3) Pemberdayaan politik, dan; (4) Pemberdayaan kebudayaan.

Anda mungkin sering mendengar istilah pemberdayaan masyarakat, bukan? Memang istilah tersebut kini sering digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, LSM, swasta, hingga perguruan tinggi dan lain sebagainya terutama ditujukan untuk menangani masalah kemiskinan di masyarakat. Namun sebelum itu, apakah Anda juga tahu bahwa pemberdayaan masyarakat telah digunakan selama puluhan tahun dan terus mengalami transformasi ke dalam beberapa dimensi atau bentuk? Untuk itu, mari kita bahas bersama-sama materi tentang dimensi-dimensi dalam pemberdayaan masyarakat ini.

Secara umum, pemberdayaan masyarakat didefinisikan sebagai usaha pemberian kuasa dan/atau daya kepada sekelompok manusia yang saling hidup bersama dalam batas wilayah ataupun tujuan bersama mereka. Dalam pemberdayaan masyarakat, fokus paling penting pada dasarnya berada pada upaya mendudukkan masyarakat pada posisi subjek yang aktif dan bukan malah pasif sebagai objek saja. Guna memahami lebih lanjut tentang pemberdayaan, kiranya terdapat beberapa dimensi yang perlu diperhatikan secara lebih lanjut dalam pelaksanaanya.

Judith Lee (2001) memaparkan bahwa dimensi pemberdayaan masyarakat meliputi: (1) Pengembangan aspek positif dan potensi diri yang dimiliki; (2) Membangun pemahaman atau pengetahuan serta kapasitas secara kritis dan komprehensif tentang kondisi sosial, politik, dan lingkungan di suatu wilayah, dan; (3) Pengembangan sumber daya dan strategi serta kemampuan fungsional untuk mencapai tujuan kolektif. Menurut pendapat yang lain, dimensi-dimensi di dalam pemberdayaan masyarakat juga dibagi menjadi empat macam dimensi (Overseas Development Institute, 2009), antara lain: 

  1. Pemberdayaan ekonomi

Proses ini bertujuan untuk meningkatkan keahlian, kapasitas, dan sumber daya seseorang untuk mendapatkan akses hak dasar ekonomi yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah memperkuat akses terhadap aset dan sumber daya. 

  1. Pemberdayaan sumber daya manusia dan sosial 

Pemberdayaan ini dapat dikatakan multidimensi karena menjadi proses membantu sekelompok orang untuk mendapatkan kontrol terhadap kehidupannya.  Pemberdayaan ini merupakan proses untuk mengembangkan kekuasaan yang membutuhkan kapasitas masyarakat. Tujuannya adalah agar kelompok masyarakat mampu mengambil keputusan terhadap berbagai hal penting yang mempengaruhi kehidupan mereka (Page & Czuba, 1999).

  1. Pemberdayaan politik 

Pemberdayaan ini berkaitan dengan pengembangan kapasitas masyarakat agar mampu melakukan analisis, mengorganisasi, dan memobilisasi diri dan kelompoknya. Hasilnya adalah gerakan kolektif yang dibutuhkan untuk membuat perubahan. Hal ini sering kali berkaitan dengan right-based approach atau pendekatan berbasis hak dalam proses pemberdayaan karena masyarakat memobilisasi diri untuk akses hak dasar mereka (Piron &Watkins, 2004). 

  1. Pemberdayaan kebudayaan 

Dimensi pemberdaayaan ini didefinisikan sebagai redefinisi atau mendefinisikan ulang bagaimana aturan dan norma yang ada di masyarakat diimplementasikan.

Perlu ditekankan di sini bahwa berbagai dimensi dalam proses pemberdayaan tersebut juga berkaitan langsung dengan kewirausahaan sosial yang akan dilakukan oleh Anda. Mengingat semangat usaha yang Anda bangun dan jalankan juga tentunya mengacu pada upaya memberdayakan masyarakat sekitar Anda.

Referensi

Lee, Judith. 2001. The Empowerment Approach to Social Work Practice Building the Beloved Community. New York: Columbia University Press. 

Page dan Czuba. 1999., ‘Empowerment: What is it?’ Journal of Extension 37 (5): 1-6. 

Piron, dan Watkins,. 2001. ‘DFID Human Rights Review: A Review of How DFID has Integrated Human Rights into its Work’. Report for DFID.

Photo by Shalom de León on Unsplash

More to explorer

Mengenal Koperasi Multi Pihak

Kemunculan sharing economy dan digitalisasi memfasilitasi pembentukan ekosistem inovasi atau Areas of Innovation (AOI) dan pembangunan startup melalui kolaborasi berbagai entitas bisnis.

Close Menu