Manajemen Diri untuk Keseimbangan Eksplorasi dan Eksploitasi Diri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pemuda dikategorikan sebagai kelompok pembelajar dan petualang kehidupan karena dianggap memiliki sumber daya waktu dan energi yang besar. Menyiapkan diri sebagai penyintas perubahan dan ketidakpastian, pemuda seringkali diharapkan dapat mempersenjatai diri untuk menghadapi masa depan. Salah satunya, dengan memanfaatkan waktu secara aktif, inovatif dan produktif. Pasalnya, produktivitas pemuda menjadi faktor yang krusial dalam menghindari jurang pengangguran (Browne, 2016). 

Terlebih di tengah ancaman prekariasi yang menuntut pemuda memiliki ragam kemampuan dan pengalaman untuk bertahan dalam pasar kerja yang kompetitif. Tuntutan tersebut, alhasil, mendorong pemuda untuk melakukan investasi diri melalui eksplorasi dan eksploitasi diri. Sebab, pemuda perlu meningkatkan produktivitas mereka untuk mengejar transformasi ekonomi dan sosial. Dengan harapan bahwa semakin banyak eksplorasi kemampuan dan pengalaman yang dialami pemuda, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan pekerjaan. Meskipun demikian, hal tersebut berpotensi membawa pemuda terjebak pada kultur produktivitas tak sehat.

Secara global, pemuda berada di bawah  kompleksitas ekonomi dan hegemoni neoliberalisme. Neoliberalisme mereorientasi pasar kerja menuju ekonomi pengalaman (economy of experience) yang mengedepankan kapital personal berupa pengalaman, kemampuan, dan sikap tertentu yang dibutuhkan penyedia kerja (Brown and Hesketh, 2004). Akibatnya, pemuda dituntut untuk melakukan investasi diri dengan melakukan eksplorasi terhadap kualitas variasi personal baru, serta memanfaatkan potensi diri. Misalnya, dengan melakukan berbagai pelatihan, magang, dan kerja produktif lainnya untuk mempercantik resume atau portfolio mereka. Secara bersamaan juga mengoptimalkan kemampuan diri untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam menyelesaikan pendidikan serta menjalani kerja-kerja tersebut. Hal ini dianggap sebagai praktik manajemen diri sebelum berkompetisi di pasar kerja. Namun, praktik ini mengaburkan garis batas eksplorasi dan eksploitasi diri.

Dalam tataran individu, dilema eksplorasi dan eksploitasi dapat digunakan sebagai bingkai dalam proses manajemen diri. Menurut Muhr (2012), manajemen diri berkaitan dengan subjektivitas individu terhadap kapabilitas; aspirasi dan batas diri; otonomi diri dalam manajerial waktu dan aktualisasi diri; serta produktivitas. Eksplorasi dan eksploitasi dalam level individu, diartikan sebagai reliabilitas terhadap serta penciptaan variasi pengalaman. Artinya, individu memaksimalkan mobilisasi sumber daya personal juga eksperimental dan eksploratoris dalam mencari sumber daya baru secara bersamaan (Muhr, 2012). 

Tanpa dibarengi dengan manajemen diri, mobilisasi sumber daya personal akan mengarah kepada bentuk eksploitasi diri, sebab, individu merasa memiliki tuntutan yang cenderung berasal dari dalam diri. Hal tersebut merupakan produk dari kerentanan serta tuntutan untuk memiliki performa tinggi dan ekspektasi. Dalam buku Burnout Society, kekhawatiran terhadap ketidakpastian–akibat neoliberalisme–menciptakan cara-cara psikologis untuk menghadapi kegagalan dalam mengontrol profesionalisme melalui upaya untuk menguasai diri sendiri (mastering oneself). Hal tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya tuntutan bagi pemerintah untuk memberdayakan individu dengan memperluas nilai kemampuan kerja, dengan kata lain meningkatkan kapasitas individu untuk lebih siap dan mudah dalam mendapatkan kerja atau mempertahankan pekerjaan baru (Bloom, 2013).

Dalam konteks pemuda, setidaknya ada empat proses transisi mayor yang perlu dinegosiasi, yaitu belajar secara berkelanjutan, bertransisi menuju kerja, mempraktikkan kewarganegaraan dan mengembangkan gaya hidup sehat (Wegner and Majee, 2021). Proses transisi ini menuntut tanggung jawab dan manajemen diri. Terlebih, pemuda menjalani transisi tersebut di tengah berbagai tantangan, terutama terkait dengan terciptanya kerja-kerja prekariasi dan tingkat pengangguran yang tinggi.  Selain itu, karakter individualisasi yang lekat dengan masyarakat modern menyerahkan kepada individu untuk menciptakan trayektori di tengah kompleksitas dan variasi posibilitas (Mørch, 2017). Menghadapi tantangan tersebut, diperlukan pendidikan yang baik serta pemilihan yang tepat dalam kaitannya dengan pasar kerja melalui biografi pilihan dan konstruksi diri. 

Kegagalan dalam proses transisi menuju pekerjaan berkontribusi terhadap menurunnya kapasitas manajemen diri pemuda (Wegner and Majee, 2021). Sebab, untuk memenuhi berbagai permintaan dalam dunia yang individualis, pemuda harus bergantung pada diri dan sumber daya diri sebagai proses mitigasi dalam dari risiko sosial seperti pengangguran. Pemuda akhirnya mengoptimalkan eksplorasi melalui pencarian berbagai pengalaman dan kemampuan baru yang tak jarang juga membawa pemuda mengalami eksploitasi diri; atau mengeksploitasi diri dengan dalih eksplorasi sebab tak mampu menarik garis batas antara keduanya. 

Konseptualisasi Sara Muhr (2012) dalam kaitan eksplorasi dan eksploitasi pada manajemen diri di level individu terletak pada tiga aspek, yaitu beban kerja, aspirasi dan aspek kesenangan. Beban kerja mengacu kepada regulasi sumber daya personal berupa penyesuaian waktu dan usaha dalam bekerja. Hal tersebut termasuk mengatur waktu dan usaha dalam menyelesaikan pekerjaan serta mengelola ekspektasi yang dibebankan merupakan tanggung jawab individu dalam manajemen diri. Aspirasi berkaitan dengan regulasi terhadap ambisi, sedang kesenangan (fun) merujuk pada regulasi kesenangan yang didapatkan dalam bekerja. Ketiga aspek tersebut saling berkesinambungan dalam proses manajemen diri untuk menemukan garis tengah antara eksplorasi dan eksploitasi diri. Pemuda seringkali gagal dalam menguasai dan mengendalikan ketiga aspek tersebut sehingga cenderung mengeksploitasi sumber daya personal mereka. 

Manajemen diri strategis dibutuhkan untuk menghadapi individualisasi dan membatasi diri dari eksplorasi yang eksploitatif, sebab kekhawatiran terhadap kerentanan. Manajemen diri strategis merujuk pada pemenuhan terhadap kebutuhan untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri dengan menggunakan berbagai kemungkinan yang tersedia (Mørch, 2017). Hal tersebut dapat mendukung pemuda dalam mengendalikan produktivitas berlebihan. Manajemen diri juga perlu mengasah kemampuan pemuda untuk menggunakan kapabilitas dan kemampuan mereka secara efektif sehingga membantu pemuda dalam pengelolaan dan kontrol diri, serta membangun hubungan yang sehat baik dengan diri sendiri dan orang lain (Wegner and Majee, 2021). Dengan manajemen diri yang kuat, pemuda dapat membekali diri dengan kemampuan untuk menjawab berbagai tantangan menggunakan sumber daya personal mereka. Selain itu, kebijakan yang mendukung pemuda dalam pengembangan kapasitas, pembentukan karakter, peningkatan kepercayaan diri untuk mencapai partisipasi yang sehat dalam kehidupan. Bukan hanya ekspektasi yang dibebankan, pemuda juga memerlukan dukungan. 

Referensi:

Bloom, P. (2013). Fight for your alienation: The fantasy of employability and the ironic struggle

for self-exploitation. Ephemera Journal.

Brown, Phillip & Hesketh, Anthony. (2005). The Mismanagement of Talent: Employability and Jobs in the Knowledge Economy. Industrial & Labor Relations Review. 50. 10.2189/asqu.2005.50.2.306.

Browne, E. (2016). Economic transformation, productivity and youth. K4D Helpdesk Report. Brighton, UK: Institute of Development Studies

Muhr, Sara & Alvesson, Mats & Pedersen, Michael. (2012). Work-load, passion and fun: Problems of balancing self-exploitation and self-exploration in work-life. Research in the Sociology of Organization. 37. 193-220. 10.1108/S0733-558X(2013)0000037011.

Mørch, Sven, Sabina Pultz & Pernille Stroebaek (2017): Strategic self-management: the new youth challenge, Journal of Youth Studies, DOI: 10.1080/13676261.2017.1385747

Wegner, Lisa & Majee, Wilson. (2021). Self-Management in Youth. 10.1007/978-3-030-69736-5_7.

Photo by Vlada Karpovich on Pexels

More to explorer

Mengenal Koperasi Multi Pihak

Kemunculan sharing economy dan digitalisasi memfasilitasi pembentukan ekosistem inovasi atau Areas of Innovation (AOI) dan pembangunan startup melalui kolaborasi berbagai entitas bisnis.

Close Menu